As-Samaa bagian pertama
اَلَّزِ ىْ خَلَقَ سَبْحَ سَمَوَاتٍ طِباَ قاً ماَ تَرَى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَحَلْ تَرَى مِنْ فُطُوْرٍ◎شُمَّ ارْجِعِ اْلبَصَرَكَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ اِلَيْكَ اْلبَصَرُخَاسأًوَحُوَحَسِيْرٌ◎املك
Artinya : “(Tuhan) yang menjadikan tujuh lapis langit bersusun-susun, tidaklah akan engkau lihat ciptaan Tuhan Yang Rahman itu suatu ke tidak sempurnaan; ulangilah pandanganmu, apakah kau lihat padanya kecacatan? Kemudian ulangilah pandanganmu sekali lagi, maka (usahamu untuk mencari ke tidak sempurnaan itu) akan kembali kepadamu dengan lemah dan hampa.”
(Surat Al-Mulk: 3-4)
Ayat-ayat ini menerangkan bahwa Tuhan telah menciptakan tujuh lapis langit bersusun-susun dan bertingkat-tingkat. Thobaqa artinya tingkat-tingkat atau lapisan-lapisan.
Ketujuh lapis langit itu telah diciptakan dengan sempurna, tidak ada cacat sedikitpun. Tuhan menegaskan pula bahwa tidak akan ditemui kecacatan apapun oleh siapa yang memandangnya dengan seksama. Tuhan menantang manusia supaya memperhatikannya berkali-kali dengan seksama. Mencari-cari jika kalau dapat menemukan kecacatan apapun padanya. Maka andaikan seluruh manusia dan jin memang berusaha dengan segala kemampuannya yang ada untuk mencari sesuatu kecacatan yang bagaimanapun, mereka akhirnya akan menyerah dengan sendirinya, kehabisan daya dan kemampuan. Segala usahanya itu akan sia-sia dan hampa. Mereka akan lemah dan putus asa. Tidak akan ada sedikitpun cacat yang ditemukannya pada apa-apa yang diciptakan oleh Tuhan semesta alam Allah SWT.
Untuk dapat menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan baik, terutama untuk dapat merasakan betapa kebesaran Tuhan yang telah menciptakanya, marilah kita lihat langit itu sebagaimana apa yang dilihat oleh ilmu pengetahuan sekarang. Lebih-lebih ayat diatas mengandung perintah tegar agar manusia benar-benar memperhatikan ciptaan Tuhan yang sangat besar itu. “Ulangilah pandanganmu, apakah kau temukan padanya kecacatan?” “Ulangilah sekali lagi!”(sampai ke akhir ayat).
Bila kita mendengar perkataan “langit (as-samaa)”atau “tujuh lapis langit (sab’a samaawaat), kemudian kita memandang pada langit dimalam hari, maka biasanya kita lalu cendrung untuk mencari-cari manakah yang dimaksudkan dengan lapisan-lapisan langit itu dengan mata biasa maupun dengan teropong-teropong yang besar. Demikian pula baik secara pandangan masyarakat awam yang kurang atau tidak mempunyai pengetahuan tentang ruang angkasa maupun secara pandangan orang-orang yang berpengetahuan tentang astronomi modern. Semuanya cendrung untuk mencari-cari manakah lapisan-lapisan langit yang dimaksudkan oleh Al-Quran itu.
Didalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menyebutkan tentang diciptakannya “tujuh lapis langit”. Diantaranya didalam surat Al-Mulk: 3-4, yang kita bicarakan ini. Kalau kita perhatikan ayat-ayat yang menyebutkan langit itu, maka kita akan melihat bahwa ayat-ayat itu ada yang menyebutkan tentang langit atau as-samaa’ saja, jadi dalam arti tunggal, dan ada pula yang menyebutkan tentang Langit-langit atau as-samaawat, jadi dalam arti jama’.
Untuk dapat menafsirkan surat Al-Mulk yang sedang kita bicarakan ini begitu pula semua ayat-ayat langit lainnya, maka tinjauan kita ini dibagi atas dua bagian, yaitu bagian ke-1 tentang Langit/as-samaa’, dan bagian ke-2 tentang Langit-langit/as-samaawat. Sedangkan pada bagian ke-3 kita bicarakan secara bergabung antara as-samaa’ dan as-samaawat.
Perkataan as-samaa’ atau as-samaa’un yang diterjemahkan sebagai langit didalam bahasa Indonesia, artinya ialah semua yang ada diatas kita, ruangan atau awang-awang yang ada disekitar bumi, hujan, awan dan sebagainya (Al-Munjid hal.353).
Perkataan as-samaa’ dapat juga berarti falak yang mencakup semua benda angkasa (Daa-iratul Ma’arif hal 306, cetakan ke-II tahun 1924).
Sedangkan menurut Sayid Muhammad Rasyid Ridha di dalam tafsir Al-Manaar I hal.187 samaa’ atau langit itu ialah seluruh alam yang ada diatas kita. Adapun perkataan as-samaawat adalah jamak dari pada perkataan as-samaa’.
Didalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 307 kali perkataan langit, yaitu 120 kali dalam bentuk tunggal (mufrad, as-samaa’) dan 187 kali dalam bentuk jamak (as-samaawat). Diantaranya 6 kali dirangkaikan dengan perkataan sab’a atau sab’i yang berarti tujuh. Kemudian 1 kali dipakai perkataan tharaaiqa, yaitu didalam surat Al-Mu’minun: 17, dan 1 kali dipakai perkataan syidaada, yaitu didalam surat An-Nabaa: 12, juga keduanya dirangkaikan dengan perkataan sab’a. Menurut sebagian ahli tafsir, tharaaiqa itu sama artinya dengan samaawat. Demikian pula syidaada.
Demikianlah arti perkataan as-samaa’ menurut beberapa kamus bahasa Arab dan menurut beberapa Ulama Islam. Selain itu kalau kita mempelajari arti kata as-samaa’ itu dari ke-300an ayat-ayat Qur’an yang menyebutkannya tahulah kita bahwa kadang-kadang as-samaa’ dan as-samaawat itu berarti pula awan, hujan, atmosfir (hawa udara) yang mengelilingi bumi. Planet-planet, Bintang-bintang dan semua benda dan zat ( materi ) yang ada diantara ketujuh lapis langit dan bumi, alam semesta (jagat raya) atau universal/universe, dan juga ruang maha luas (space) yang melingkungi ketujuh lapis langit.
Bersambung....... (akan saya lanjutkan bagaimana Evolusi? atau perkembangan pengetahuan manusia tentang alam semesta itu sejak zaman purba hingga sekarang?) bagi yang suka tulisan saya, saya ucapkan Terima kasih.
Komentar